laporan analisa kadar Ca kualitatif

BAB 1

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi batuan galian

Batuan merupakan kumpulan mineral yang telah membeku. Batuan juga merupakan elemen kulit bumi yang menyediakan mineral-mineral anorganik melalui proses pelapukan dan menghasilkan tanah. Batuan mempunyai komposisi mineral, sifat-sifat fisik, dan umur yang bermacam-macam. Umumnya batuan merupakan gabungan dari dua mineral atau lebih. Mineral adalah suatu zat anorganik yang mempunyai komposisi kimia dan struktur atom tertentu. Jumlah mineral sangat banyak  jenisnya ditambah dengan jenis kombinasinya.

Kebanyakan orang menganggap batuan adalah segala sesuatu yang keras, sedangkan mineral adalah segala bahan galian atau batu mulia yang ditambang dan mempunyai nilai ekonomis. Tetapi anggapan tersebut sangat jauh dari keadaan yang sebenarnya. Batuan dengan sederhana didefinisikan sebagai agregasi dari satu atau beberapa jenis mineral yang bercampur menjadi satu, tetapi sifat dasar dari tiap mineral tersebut masih tetap terlihat. Meskipun kebanyakan batuan tersusun dari bermacam mineral, tetapi hanya mineral tertentu saja yang umumnya dijumpai dalam jumlah yang dominan, sehingga materi tersebut dapat bertindak sebagai batuan atau mineral.
Mineral merupakan bahan padat bentukan alam, umumnya tersusun oleh material anorganik, mempunyai struktur atom tertentu dan sifat kimia yang spesifik. Meskipun definisi tersebut dikatakan tepat tetapi masih ada juga beberapa pengecualian. Batubara dan minyak bumi yang tersusun oleh material organik, oleh beberapa ahli geologi dikategorikan sebagai mineral. Ada juga beberapa mineral yang mempunyai komposisi yang bervariasi.

  1. Klasifikasi Bahan galian

“Berdasarkan Undang- Undang”

  1. Golongan A (Bahan galian strategis), yaitu bahan galian yang penting untuk pertahanan, keamanan negara atau untuk menjamin perekonomian Negara.

Contoh :

–          Minyak Bumi,bitumen cair, lilin bumi, gas alam;

–          Bitumen padat,aspal

–          Antrasit, batubara, batubara muda

–          Uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian radioaktif lainnya.

  1. Golongan B (Bahan galian vital), yaitu golongan bahan galian yang untuk memenuhi hajat hidup orang banyak.

Contoh :

–          Besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan

–          Bauksit, tembaga, timbal, seng

–          Emas, platina, perak, air raksa, intan

–          Arsin, antimon, bismut

–          Yttrium, rthutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya;

–          Berillum, krudium, zirkon, Kristal kwarsa;

–          Kriolit, fluorspar, barit;

–          Yodium, brom, khior, belerang;

  1. Golongan C (Bahan galian bukan strategis dan vital), yaitu bahan galian yang tidak termasuk bahan galian strategis dan vital berarti karean sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional.

Contoh :

–          Nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite)

–          Abes, talk, mika, grafit, magnesit

–          Yarosit, leusit,twas 9alum), oker

–          Batu permata, batu setengah permata

–          Pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit

–          Batu apung, tras, obsidian, perilit, tanah datome, tanah serap (fullers earth)

–          Marmer, batu tulis

–          Batu kapur, dolomit, kalsit

–          Granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjang tidak mengandung unsus-unsur mineral golongan A maupun B dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.

Dasar-dasar penggolongan bahan-bahan galian, yaitu :

  1. Nilas strategi/ekonomis bahan galian terhadap Negara
  2. Terdapatnya suatu bahan galian dalam alam (genese)
  3. Penggunaan bahan galian bagi industry
  4. Pengaruhnya terhadap hidup rakyat banyak
  5. Pemberian kesempatan pengembangan pengusaha

Berdasarkan kandungan mineralnya bahan galian”

  1. Bijih (ore), bahan galian sebagai sumber bahan logam,contohnya kasiterit(Sn), Hematit(Fe), Bauksit(Al) dll.
  2. Bukan bijih, sebagian bahan bukan logam, contohnya beleran fosfat, kaolin,kapur,dll.

Berdasarkan Meineral ekonomi”

  1. Metalic Mineral :

o   Precious metal               : tembaga,seng dan timah

o   Steel Industry                 : besi, nikel, chromium, mangan, tungsten, dan vanadium

o   Electronic Industry         : cadmium, bismuth, dan germanium

o   Radio Active                   : uranium dan radium

  1. Non-Metalic Mineral :

o   Isolator                             : mika dan asbes

o   Refractory material        : silica,alumina,zircon dan grafit

o   Abresive Mineral                        : corundum,garnet,intan dan topaz

o   General Industry Mineral          : fosfat, belerang, batu gamping,garam, barit, boraks, feldspar, magnesit, gypsum, clay(lempung)dll.

  1. Fuel Mineral :

o   Solid (zat padat) : coal,lignite dan oil shale

o   Liquid (Zat Cair) : minyak bumi.

“Berdasarkan cara terbentuknya”

  1. Bahan Galian Magmatik, yaitu bahan galian yang terjjadi dari magma dan bertempat didalam / berhubungan dan dekat dengan magma.
  2. Bahan Galian Pematit, yaitu bahan galian yang terbentuk didalam diatrema dan dalam pembentukan instrusi (gang dan apofisa)
  3. Bahan Galian hasil pengendapan didasar sungai / genangan air melalui proses pelarutan pada batuan hasil pelapukan.
  4. Bahan Galian hasil pengayaan skunder, yaitu bahan galian yang terkonsentrasi karena proses pelarutan pada batuan hasil pelapukan.
  5. Bahan galian hasil metamorfosis kontak, yaitu batuan sekitar magma berubah menjadi mineral ekonomik.
  6. Bahan Galian Hidrotermal, yaitu resapan magma cair yang membeku dicelah-celah struktur lapisan bumi atau pada lapisan yang bersuhu relative rendah dibawah 500°C.
  1. Mineral pembentuk batuan dikelompokan sebagai berikut :

Ø  Mineral Silikat

Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90 % dari berat kerak-Bumi terdiri dari mineral silikat, dan hampir 100 % dari mantel Bumi (sampai kedalaman 2.900 km dari kerak Bumi). Silikat merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu sedimen, batuan beku maupun batuan malihan. Silikat pembentuk batuan yang umum adalah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan non-ferromagnesium.

Berikut adalah Mineral Silikat:

  1. Kuarsa: ( SiO2 )
  2. Felspar Alkali: ( KAlSi3O8 )
  3. Felspar Plagiklas: (Ca,Na)AlSi3O8)
  4. Mika Muskovit: (K2Al4(Si6Al2O20)(OH,F)2
  5. Mika Biotit: K2(Mg,Fe)6Si3O10(OH)2
  6. Amfibol: (Na,Ca)2(Mg,Fe,Al)3(Si,Al)8O22(OH)
  7. Pyroksen: (Mg,Fe,Ca,Na)(Mg,Fe,Al)Si2O6
  8. Olivin: (Mg,Fe)2SiO

Ø  Mineral ferromagnesium:

Umumnya mempunyai warna gelap atau hitam dan berat jenis yang besar.

Olivine: dikenal karena warnanya yang olive. Berat jenis berkisar antara 3.27- 3.37, tumbuh sebagai mineral yang mempunyai bidang belah yang kurang sempurna.

Augitit: warnanya sangat gelap hijau hingga hitam. BD berkisar antara 3.2 – 3.4 dengan bidang belah yang berpotongan hampir tegak lurus. Bidang belah ini sangat penting untuk membedakannya dengan mineral hornblende.

Hornblende: warnanya hijau hingga hitam; BD. 3.2 dan mempunyai bidang belah yang berpotongan dengan sudut kira-kira 56° dan 124° yang sangat membantu dalam cara mengenalnya.Biotite: adalah mineral mika bentuknya pipih yang dengan mudah dapat dikelupas. Dalam keadaan tebal, warnanya hijau tua hingga coklat-hitam; BD 2.8 – 3.2.

Ø  Mineral non-ferromagnesium.

Muskovit: Disebut mika putih karena warnanya yang terang, kuning muda, coklat , hijau atau merah. BD. berkisar antara 2.8 – 3.1.

Felspar: Merupakan mineral pembentuk batuan yang paling banyak . Namanya juga mencerminkan bahwa mineral ini dijumpai hampir disetiap lapangan. Feld dalam bahasa Jerman adalah lapangan (Field). Jumlahnya didalam kerak Bumi hampir 54 %. Nama-nama yang diberikan kepada felspar adalah plagioklas dan orthoklas. Plagioklas kemudian juga dapat dibagi dua, albit dan anorthit. Orthoklas adalah yang mengandung Kalium, albit mengandung Natrium dan Anorthit mengandung Kalsium. Orthoklas: mempunyai warna yang khas yakni putih abu-abu atau merah jambu. BD. 2.57.

Kuarsa: Kadang disebut silika. Adalah satu-satunya mineral pembentuk batuan yang terdiri dari persenyawaan silikon dan oksigen. Umumnya muncul dengan warna seperti asap atau smooky, disebut juga smooky quartz. Kadang-kadang juga dengan warna ungu atau merah-lembayung (violet). Nama kuarsa yang demikian disebut amethyst, merah massif atau merah-muda, kuning hingga coklat. Warna yang bermacam-macam ini disebabkan karena adanya unsur-unsur lain yang tidak bersih

Ø  Mineral oksida.

Terbentuk sebagai akibat perseyawaan langsung antara oksigen dan unsur tertentu. Susunannya lebih sederhana dibanding silikat. Mineral oksida umumnya lebih keras dibanding mineral lainnya kecuali silikat. Mereka juga lebih berat kecuali sulfida. Unsur yang paling utama dalam oksida adalah besi, Chroom, mangan, timah dan aluminium. Beberapa mineral oksida yang paling umum adalah es (H2O), korondum (Al2O3), hematit (Fe2O3) dan kassiterit (SnO2).

Ø  Mineral Sulfida.

Merupakan mineral hasil persenyawaan langsung antara unsur tertentu dengan sulfur (belerang), seperti besi, perak, tembaga, timbal, seng dan merkuri. Beberapa dari mineral sulfida ini terdapat sebagai bahan yang mempunyai nilai ekonomis, atau bijih, seperti pirit (FeS3), chalcocite (Cu2S), galena (PbS), dan sphalerit (ZnS).

Ø  Mineral-mineral Karbonat dan Sulfat.

Merupakan persenyawaan dengan ion (CO3)2−, dan disebut karbonat, umpamanya persenyawaan dengan Ca dinamakan kalsium karbonat, CaCO3 dikenal sebagai mineral kalsit. Mineral ini merupakan susunan utama yang membentuk batuan sedimen.

D.   Batu Gamping (Batu Kapur)

Batu gamping adalah batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium karbonat (CaCO3) dalam bentuk mineral kalsit. Di Indonesia, batu gamping sering disebut juga dengan istilah batu kapur, sedangkan istilah luarnya biasa disebut “limestone”. Batu gamping paling sering terbentuk di perairan laut dangkal.

Baca juga: Deskripsi, Genesa, dan Kegunaan Kalsit

Batu gamping (batu kapur) kebanyakan merupakan batuan sedimen organik yang terbentuk dari akumulasi cangkang, karang, alga, dan pecahan-pecahan sisa organisme. Batu gamping juga dapat menjadi batuan sedimen kimia yang terbentuk oleh pengendapan kalsium karbonat dari air danau ataupun air laut.

Pencarian lainnya yang berhubungan dengan artikel ini : batu kapur, batu gamping, jenis batu gamping, deskripsi batu gamping, jenis batu kapur, asal batu kapur, pemanfaatan batu kapur, kegunaan batu kapur, pembentukan batu kapur.

Pada prinsipnya, definisi batu gamping mengacu pada batuan yang mengandung setidaknya 50% berat kalsium karbonat dalam bentuk mineral kalsit. Sisanya, batu gamping dapat mengandung beberapa mineral seperti kuarsafeldspar, mineral lempung, pirit, siderit dan mineral-mineral lainnya. Bahkan batu gamping juga dapat mengandung nodul besar rijang, nodul pirit ataupun nodul siderit.

Baca juga: Batu Rijang dan Proses Pembentukannya

Kandungan kalsium karbonat dari batugamping memberikan sifat fisik yang sering digunakan untuk mengidentifikasi batuan ini. Biasanya identifikasi batugamping dilakukan dengan meneteskan 5% asam klorida (HCl), jika bereaksi maka dapat dipastikan batuan tersebut adalah batugamping.

Pembentukan Batugamping pada Lingkungan Laut

Kebanyakan batugamping terbentuk di laut dangkal, tenang, dan pada perairan yang hangat. Lingkungan ini merupakan lingkungan ideal di mana organisme mampu membentuk cangkang kalsium karbonat dan skeleton sebagai sumber bahan pembentuk batugamping. Ketika organisme tersebut mati, cangkang dan skeleton mereka akan menumpuk membentuk sedimen yang selanjutnya akan terlitifikasi menjadi batugamping.

Produk sisa organisme tersebut juga dapat berkontribusi untuk pembentukan sebuah massa sedimen. Batugamping yang terbentuk dari sedimen sisa organisme dikelompokan sebagai batuan sedimen biologis. Asal biologis mereka sering terlihat oleh kehadiran fosil.

Beberapa batugamping dapat terbentuk oleh pengendapan langsung kalsium karbonat dari air laut. Batugamping yang terbentuk dengan cara ini dikelompokan sebagai batuan sedimen kimia. Batugamping ini dianggap kurang melimpah dibandingkan batugamping biologis.

Pembentukan Batugamping pada Lingkungan Evaporasi

Batugamping juga dapat terbentuk melalui penguapan. Stalaktit, stalakmit dan formasi gua lainnya (sering disebut speleothems) adalah contoh dari batugamping yang terbentuk melalui penguapan. Di sebuah gua, tetesan air akan merembes dari atas memasuki gua melalui rekahan ataupun ruang pori di langit-langit gua, kemudian akan menguap sebelum jatuh ke lantai gua.

Baca juga: Mengenal Diatom, Alga Pembentuk Batu Diatomit

Ketika air menguap, setiap kalsium karbonat yang dilarutkan dalam air akan tersimpan di langit-langit gua. Seiring waktu, proses penguapan ini dapat mengakibatkan akumulasi seperti es kalsium karbonat di langit-langit gua, deposit ini dikenal sebagai stalaktit. Jika tetesan jatuh ke lantai dan menguap serta tumbuh/berkembang ke atas (dari lantai gua) depositnya disebut dengan stalakmit. Batu gamping yang membentuk formasi gua ini dikenal sebagai “travertine” dan masuk dalam kelompok batuan sedimen kimia.

Jenis-jenis Batu Gamping (Batu Kapur)

Ada banyak nama berbeda digunakan untuk batugamping. Nama-nama ini didasarkan pada bagaimana batugamping terbentuk, penampilannya (tekstur), komposisi mineral penyusunnya, dan beberapa faktor lainnya. Berikut ini adalah beberapa jenis batugamping yang namanya lebih umum digunakan:

  1. Chalk: merupakan sebuah batugamping lembut dengan tekstur yang sangat halus, biasanya berwarna putih atau abu-abu. Batuan ini terbentuk terutama dari cangkang berkapur organisme laut mikroskopis seperti foraminifera atau dari berbagai jenis ganggang laut.
  2. Coquina: merupakan sebuah batugamping kasar yang tersemenkan, yang tersusun oleh sisa-sisa cangkang organisme. Batuan ini sering terbentuk pada daerah pantai dimana terjadi pemisahaan fragmen cangkang dengan ukuran yang sama oleh gelombang laut.
  3. Fossiliferous Limestone: merupakan sebuah batugamping yang mengandung banyak fosil. Batuan ini dominan tersusun atas cangkang dan skeleton fosil suatu organisme.
  4. Lithographic Limestone: merupakan sebuah batugamping padat dengan ukuran butir sangat halus dan sangat seragam, yang terjadi di dalam sebuah lapisan tipis membentuk permukaan sangat halus.
  5. Oolitic Limestone: merupakan sebuah batugamping yang terutama tersusun oleh kalsium karbonat “oolites”, berbentuk bulatan kecil yang terbentuk oleh hasil presipitasi konsentris kalsium karbonat pada butir pasir atau cangkang fragmen.
  6. Travertine: merupakan sebuah batugamping yang terbentuk oleh presipitasi evaporasi, sering terbentuk di dalam gua, yang menghasilkan deposit seperti stalaktit, stalakmit dan flowstone.

BAB 2

Alat dan Bahan

  1. Alat


  1. Gelas Beaker
  2. Corong
  3. Penangas
  4. Gelas Ukur
  5. Batang Pengaduk
  6. Erlenmeyer
  7. Pipe Tetes
  8. Termometer
  9. Neraca Aanalitik
  10. Eksikator
  11. Kaca Arloji
  12. Tabung Reaksi
  13. Mortal dan alu
  14. Tisu
  15. spektrofotometer FT-IR
  16. tanur
  17. magnetic stirrer


  1. Bahan


  1. HCl encer dan 6 M
  2. Batu kapur
  3. Amonium oksalat
  4. H2O (aquades)
  5. AgNO3
  6. BaCl2
  7. HNO3
  8. Na2C2O4 0,1 M
  9. CH3COONH4
  10. NH4OH
  11. HNO3
  12. gas CO2


BAB 3

Prosedur Analisa

  1. METODE SAMPLING 
  2. Metode Sampling Di Lapangan
  3. Metode Paritan (Channel Sampling)

   Metode ini adalah metode yang paling banyak dipakai, terutama sangat cocok untuk deposit mineral yang berlapis, banded”, dan deposit jenis urat (vein), dimana terdapat variasi yang jelas dalam ukuran butir dan warna, yang kemungkinan juga berbeda dalam komposisi dan kadar dari bahan-bahan berharga yang dikandungnya. Metode ini dapat dilakukan pada deposit mineral baik yang tersingkap di permukaan maupun yang berada di bawah permukaan tanah pada dinding cross-cut,raiseshaft, sisi-sisi stope, ataupun dinding samurai uji (testpit). Sebaiknya untuk tidak melakukan metode channel ini pada lantai terowongan, karena bagian tersebut biasanya kotor oleh bahan jatuhan yang sering dapat mengisi rekahan-rekahan yang ada. Kalau terpaksa membuat channel pada lantai, maka lantai harus dibersihkan dulu dari kotoran pada rekahan yang ada, kemudian permukaannya dibuat benar-benar bersih, setelah itu metode ini dapat dilakukan.

Contoh paritan diambil dengan lebar sekitar 4 sampai 6 cm dan dalamnya sekitar 3 sampai 4 cm, dengan arah biasanya tegak lurus jurus lapisan. Jarak antara satu parit dengan parit lainnya tergantung dari keseragaman dari bahan galiannya. Untuk kebanyakan deposit, jarak antar parit kira-kira satu setengah meter, akan tetapi untuk deposit bijih yang kaya dan tersebar setempat-setempat jarak tersebut hanya dapat sekitar sepertiga meter saja. Umumnya satu contoh sudah cukup untuk mewakili sepanjang 2 meter dari parit yang dibuat.

  1. Metode Selokan Uji (Trenching)

Metode ini berguna untuk menemukan bahan galian dan untuk memperoleh data-data mengenai keadaan tubuh batuan (orebody) yang bersangkutan, seperti ketebalan, sifat-sifat fisik, keadaan batuan di sekitarnya, dan kedudukannya.

Cara pengambilan contoh dengan metode ini paling cocok dilakukan pada tubuh bahan galian yang terletak dangkal di bawah permukaan tanah, yaitu dimana lapisan penutup (over burden) kurang dari setengah meter. Trench yang dibuat sebaiknya diusahakan dengan cara-cara berikut:

Ø  Dasar selokan dibuat miring, sehingga jika ada air dapat mengalir dan mengeringkan sendiri (shelf drained) dengan demikian tidak diperlukan adanya pompa.

Ø  Kedalaman selokan (trench) diusahakan sedemikian rupa sehingga para pekerja masih sanggup mengeluarkan bahan galian cukup dengan lemparan.

Ø  Untuk menemukan urat bijih yang tersembunyi di bawah material penutup sebaiknya digali dua atau lebih parit uji yang saling tegak lurus arahnya agar kemungkinan untuk menemukan urat bijih itu lebih besar. Bila kebetulan kedua parit uji itu dapat menemukan singkapan urat bijihnya, maka jurusnya (strike) dapat segera ditentukan. Selanjutnya untuk menentukan bentuk dan ukuran urat bijih yang lebih tepat dibuat parit-parit uji yang saling sejajar dan tegak lurus terhadap jurus urat bijihnya

  1. Metode Chipping

Metode ini digunakan untuk pengambilan contoh pada endapan bijih yang keras dan seragam, dimana pembuatan paritan sangat sukar karena kerasnya batuan. Contoh diambil dengan cara dipecah dengan plu geologi dalam ukuran-ukuran yang seragam dan tempat pengambilan tersebut dibuat secara teratur di permukaan batuan. Jarak dari setiap titik pengambilan baik secara horisontal dan vertikal dibuat sama (seragam) dan besarnya tergantung dari endapannya sendiri.

  1. Metode Sumur Uji (Test Pitting)

   Metode ini digunakan jika lapisan penutup (over burden) agak tebal (lebih dari setengah meter), sehingga metode trenchingmenjadi tidak praktis karena pembuatan selokannya harus agak dalam sehingga menimbulkan masalah pada pembuangan tanah hasil galian dan masalah pembuangan air yang mungkin menggenang pada selokan, disamping akan memakan waktu yang lebih lama. Dalam keadaan tersebut maka dipakai metode dengan pembuatan sumur uji (test pitting) untuk mengambil contoh bahan galian. Pada umumnya ukuran lubang test pit ini adalah  dan kedalamannya dapat mencapai 35 meter, akan tetapi untuk jenis over burden yang lepas-lepas seperti pasir, ukuran lubang pit harus dibuat lebih besar untuk menghindari longsornya dinding, misalnya . Demikian pula ketika kedalaman test pit besar, maka ukuran lubang juga harus dibuat lebih besar, kemudian setelah kedalaman sampai setengahnya, ukuran lubang diperkecil. Jika lapisan penutup sangat lepas-lepas, maka dinding test pit-nya dibuat miring, sedangkan untuk material yang kompak dinding dibuat tegak dengan ukuran .

Untuk penghematan biaya dan keberhasilan pembuatantest pit, maka hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu :

Test pit harus bebas dari bongkah karena jika terhalang oleh bongkah maka pembuatantest pit tersebut akan memakan waktu yang lama sehingga memakan biaya yang mahal.

Penggunaan penyangga yang seadanya, untuk batuan yang kompak penyanggaan tidak perlu dilakukan.

Penyanggaan dapat dihindari dengan cara dinding lubang dibuat miring dan kemiringan tergantung material dari over bunden.

  1. Metode Pemboran (Borehole Sampling)

   Perkerjaan pengambilan contoh batuan dengan pemboran ini dapat dibagi menjadi dua berdasarkan tenaga penggerak dari bornya, yaitu metode pemboran tangan (hand auger) dan metode pemboran mesin (core drilling). Cara pemboran tangan sangat cocok untuk endapan bahan galian yang tidak terlalu kompak dan terletak dangkal, misalnya endapan alluvial pasir di Cilacap. Jarak antara satu pemboran dengan pemboran lainnya tergantung keadaan, sedangkan harga rata-ratanya makin baik jika pemboran makin rapat. Kadar dihitung dengan rumus :

K=  (Berat Mineral)/(Berat Contoh)  x 100%

   Sebaliknya, dalam pengambilan contoh batuan dengan bor mesin supaya diperhatikan faktor-faktor di bawah ini :

  • Keadaan medan,dimana untuk keadaan medan yang berbukit-bukit, sebaiknya digunakan mesin bor yang ringan atau yang dapat dilepas-lepas untuk memudahkan pembawaan.
  • Kedalaman endapan, dimana untuk endapan yang cukup dangkal cukup dipakai bor tangan, sedangkan yang dalam digunakan bor mesin.
  • Sifat-sifat fisik batuan.
  • Sumber air.
  • Keadaan peralatan seperi keadaan pahat, stang bor, pipa casing, dan sebagainya.

   Pada pemboran inti, contoh batuan yang terambil dapat berupa inti dan sludge yang masing-masing diletakkan dalamcore box untuk inti dan sludge box untuk sludgeSludgeadalah hasil gesekan pahat dengan batuan yang kemudian diangkat oleh air pembilas, karena itu sludge akan berupa lumpur.

  1. Sampling  di laboratorium

Percontoh batuan untuk diuji berupa inti bore (core) dari hasil pemboran inti di lapangan atau dapat dibuat di laboratorium. Pembuatan percontoh di lapangan yaitu dengan melakukan pemboran inti (core drillling) langsung ke dalam batuan yang akan diselidiki di lapangan, sehingga diperoleh inti yang berbentuk silinder. Inti tersebut langsung dapat digunakan untuk pengujian di laboratorium dengan syarat tinggi percontoh dua kali diameternya.

Pembuatan percontoh di laboratorium dapat dibuat dari blok batuan yang diambil di lapangan kemudian di bor dengan pengintian di laboratorium. Hasil percontoh  yang diperoleh  umumnya berbentuk silinder dengan diameter  50 – 70 mm, kemudian dipotong dengan mesin potong batu untuk mendapatkan ukuran tinggi percontoh dua kali diameternya. Ukuran percontoh dapat lebih kecil maupun lebih besar dari ukuran tersebut di atas tergantung dari maksud dan tujuan pengujian.

Pembuatan percontoh di laboratorium dapat juga dilakukan dengan membuat model fisik percontoh dengan tujuan untuk memenuhi kompetensi praktikum. Perbandingan campuran ini disesuaikan dengan kebutuhan. Semakin besar campuran semennya maka percontoh akan semakin kuat

  1. Prepearasi Sampel
  1. Menghaluskan sampel menggunakan mortar
  2. Menyaring dengan penyaring 150 mesh
  3. Menganalisa dengan spektrofotometer FT-IR
  4. Mengkalnisasi pada suhu 900C selama 20 menit hingga terbentuk CaO
  5. Menganalisa serbuk CaO yang terbentuk dengan spektrofotometer FT-IR
  6. ANALISA KUALITATIF
  • Analisa pendahuluan
  1. Memasukkan sedikit sampel kedalam tabung reaksi
  2. Menabahkan mbeberapa tetes larutan Na2C2O4 0,1 M. Terbentuknya endapan putih dari CaC2O4 menunjukkaadanya Ca2+.
  3. Lakukan juga test nyala terhadap 1 ml Ca(NO3)3 1 M yang sudah diasamkan dengan beberapa tetes 6 M HCl. Terbentuknya nyala yang berwarna merah-bata menandakan adanya Ca2+
  • Analisa kualitatif H2S
  1. Mengendapkan sampel sampai terbentuk endapan golongan IV (Ba2+, , Ca2+, dan Sr 2+)
  2. Menambahkan CH3COONHsedikit demi sedikit sambil dikocok dan dipanaskan
  3. Mendidihkan selama 2 menit
  4. Menyaring dan mencuci endapan dengan air dingin
  5. Menambahkan NH4OH pada filtrate sampai warna jingga menjadi kuning
  6. Menambahkan alcohol 65 % secara kontinyu
  7. Menyintrifugasi atau menyaring filtrate
  8. Menambahkan sedikit K2CrO4 pada filtrate yang baru
  9. Menyentrifugasi filtrat sampai terbentuk endapan putih
  10. Melakukan uji nyala, jika bewarna merah-kuning maka sampel positif mengandung Ca
  • Analisa kuantitatif 
  1. Metode gravimetri
  1. Menimbang 0,5 gr kapur tulis yang sudah di tumbuk dan di larutkan pada 15 ml HCl 1 M
  2. Dipanaskan di atas penangas air pada suhu 70o-80oC.setelah pada suhu ini larutan di angkat
  3. Menambahkan ammonium oksalat 4% sebanyak 20 ml(tetes demi setetes.
  4. Ditambahkan 3 tetes indicator MM
  5. Setelah warna menjadi merah mudah larutan di tambah dengan NH4OH setes demi setetes, sampai warna berubah menjadi kuning.kemudian di panaskan lagi pada suhu 70o-80oC.yang bertujuan untuk mengurangi terjadinya kopresipitasi
  6. Mendiamkan larutan sejenenak,kemudian uji dengan menetesi ammonium oksalat 4%,apabila masih timbul endapan tetesi lagi hingga larutan tidak menimbulkan endapan lagi
  7. Menyaring larutan yang sudah didiamkan  ,setelah di saring residu lalu dicuci dengan aquadest
  8. Menaruh endapan di cawan porselin. sebelumnya cawan dan kertas saring telah di timbang dan di oven pada suhu 105-110oC selama 1  sampai 2 jam
  9. Memasukan endapan kedalam oven selama 1-2 jam pada suhu 105-110oC. Dan setelah itu didinginkan dengan desikator lalu di timbang.
  10. Melakuakan perlakuan no 9 sampai memperoleh berat endapan yang konstan
  • Metode karbonisasi
  1. Menimbang 5,6 gram CaO hasil kalsinasi
  2. Menambahkan 20 ml HNO3 dan aquades hingga volumenya menjadi 200 ml
  3. Mengaduk campuran selama 30 menit dengan kecepatan 700 rpm sambil dipanaskan pada suhu 65 0C
  4. Menyaring campuran
  5. Menambahkan larutan NH25% pada filtrate hingga pH-nya 12
  6. Mengaliri gas CO2 dengan laju 0,5 dan 2L/menit sambil diaduk
  7. Mengeringkan endapan pada suhu 100-105 C hingga diperoleh berat konstan
  8. Menganalisa endapan dengan spektrofotometer FT-IR


Daftar Pustaka

https://bisakimia.com/2013/06/07/metode-analisis-kualitatif-untuk-beberapa-kation-dan-anion/

http://teknikterowongankristallo.blogspot.co.id/2016/01/laboratorium-pengujian-sifat-fisik.html

http://fmipa.unesa.ac.id/kimia/wp-content/uploads/2015/07/6-10-Fanny-Prasetia.pdf

http://minnewlogddress.blogspot.co.id/2015/02/laporan-penentuan-kalsium-dari-batu.html

http://evanskristosalu.blogspot.co.id/2013/07/metode-pengambilan-sample-bahan-galian.html

https://www.researchgate.net/publication/304115174_ANALISA_KIMIA_DAN_IDENTIFIKASI_MUTU_BATU_KAPUR_TUBAN_BERDASARKAN_SYARAT_MUTU_BATU_KAPUR_UNTUK_PEMBUATAN_KERAMIK_HALUS_SII1279-85

http://fileq.wordpress.com/category/dunia-pertambagan/pengolahan-bahan-galian/page/2

http://mayblogsukasuka.blogspot.co.id/2013/01/identifikasi-senyawa-dan-unsur-dari.html

Tinggalkan Balasan